Mengalahkan Incumbent
Kami ber-KOMITMEN..memberikan LAYANAN yang TERBAIK untuk ke-SUKSES-an USAHA.. kita bersama.. !

Mengalahkan Incumbent

Sebuah adagium terkenal menyebutkan: “Merebut kemenangan adalah hal yang sangat sulit, tetapi mempertahankan kemenangan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit.”

Pepatah lama ini sering digunakan dalam berbagai bidang Di dunia olahraga misalnya, tahun lalu klub Barcelona berhasil menjadi klub pertama di dunia yang meraih Oleg sixtuple, atau merebut enam gelar juara dari berbagai ajang kompetisi. Mulai dari juara Liga Spanyol, hingga Juara Dunia antar klub.

Namun tahun ini prestasi tersebut dipastikan tidak akan bisa dipertahankan oleh Lionel Messi dkk, karena tim asuhan Pep Guardiola itu sudah tersingkir di ajang Copa Del Rey, atau Piala Raja Spanyol, setelah mereka disingkirkan oleh Sevilla.

Tulisan singkat ini bukan untuk membahas mengenai Azulgrana, klub asal Catalan yang dinilai banyak kalangan sebagai tim sepakbola terbaik di dunia saat ini. Namun ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari tersingkirnya kegagalan El Barca mempertahankan sixtuple-nya.

Ternyata, dalam sebuah kompetisi, mengalahkan juara bertahan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Dalam bahasa alm. Asmuni (tokoh grup Srimulat), itu bukanlah hil yang mustahal. Juara bertahan bukanlah sosok yang harus ditakuti.

Karena itu menjadi sebuah hal yang mengherankan ketika at banyak calon peserta Pilkada Depok 2010, sudah ketakutan dari awal dengan sosok ‘juara bertahan’ Nur Mahmudi Ismail. Sejumlah partai berlomba-lomba membangun koalisi, sejumlah calon kasak-kusuk melakukan lobi, guna membangun kekuatan besar, yang tujuannya hanya satu : Mengalahkan Nur Mahmudi.

Begitu mengerikankah sosok Nur Mahmudi di mata lawan-lawan politiknya? Sehingga kemudian semua calon peserta Pilkada menjadikan Nur Mahmudi sebagai musuh bersama?

Memang, untuk mengalahkan seorang incumbent atau juara bertahan, diperlukan berbagai trik dan strategi. Diperlukan kejelian dan persiapan yang matang, karena seorang incumbent memiliki beberapa kelebihan.

Secara teori, memang seharusnya incumbent bisa memenangkan kompetisi dengan lebih mudah. Hal ini disebabkan beberapa faktor, antara lain karena popularitas dan penguasaan opini publik. Seorang incumbent tentu saja wholesale nfl jerseys sudah banyak dikenal oleh masyarakat di daerahnya karena kedudukannya sebagai orang nomor satu di daerahnya.

Dalam menjalankan tugasnya selaku kepala daerah, seorang incumbent memiliki sumber daya yang besar Software untuk dikenal rakyat. Prinsipnya, incumbent memiliki sarana kampanye Excel terselubung selama dia menjabat cheap MLB jerseys sebagai kepala daerah.

Sebagai kepala daerah yang sedang berkuasa, ia dapat memanfaatkan program-program dan anggaran pemerintah (baik dari pusat maupun daerah) untuk mengapitalisasi popularitasnya. Bentuk kunjungan-kunjungan kedinasan secara tidak langsung juga dapat menjadi “fasilitas gratis” untuk menanam simpati dan menarik simpati massa. Kucuran bantuan yang nota bene dari cheap nfl jerseys pemerintah, secara psikologis dapat kian merekatkan hubungan emosional.

Di Depok juga demikian. Lewat baliho dan poster besarnya yang tersebar di setiap sudut kota, masyarakat tentu lebih mengenal Nur Mahmudi dibanding calon lain, semisal Rudi Samin. Selain itu, melalui jaringan birokrasi, incumbent juga dapat memobilisasi mesin birokrasi untuk memobilisasi massa.
Berdasarkan hal tersebut, tidak mengherankan bila kemudian banyak incumbent memperoleh kemenangan dalam pilkada.

Di Jawa Tengah misalnya, dari 10 kabupaten/kota di mana incumbent ikut dalam pilkada langsung, 7 daerah dimenangkan oleh incumbent. Begitu juga di Banten, di mana pilkada di Kota Cilegon, Kabupaten Pandeglang, dan Provinsi Banten dimenangkan oleh incumbent.

Namun demikian, ternyata tidak semua incumbent yang maju dalam pilkada keluar sebagai pemenang. Pada tahun 2005, misalnya, dari 211 pilkada langsung yang diikuti oleh incumbent, sebanyak 124 (59,05%) dimenangkan oleh incumbent, sedangkan sebanyak 87 daerah (40,95) incumbent mengalami kekalahan.

Faktor kekalahan
Lalu faktor apa yang menyebabkan incumbent ternyata juga bisa dikalahkan? Ada beberapa faktor yang saling terkait di mana incumbent kalah dalam pilkada langsung. Pertama, kinerja incumbent selama menjabat dinilai gagal oleh masyarakat setempat.

Masyarakat menilai bahwa incumbent selama berkuasa tidak banyak perubahan yang berarti bagi kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Maka ketika incumbent maju kembali dalam perebutan kekuasaan, sebagai bentuk “hukuman” bagi incumbent, mereka lalu tidak memilihnya kembali.

Kedua, masyarakat di tingkat lokal menginginkan perubahan dan penolakan terhadap staus quo. Masyarakat di tingkat lokal tidak lagi mau dipimpin oleh kekuatan status quo, mereka menginginkan pemimpin baru yang akan membawa perubahan.

Ketiga, masyarakat di tingkat lokal mulai tumbuh pola perilaku pemilih SUMMER rasional. Mereka menentukan pilihannya berdasarkan pada visi, misi, dan program kerja konkret yang ditawarkan calon. Mereka tidak mau lagi diiming-imingi oleh “sembako politik” untuk ditukarkan dengan hak pilihnya. Bila pun mereka mengambil “sembako politik”, tetapi mereka tidak memberikan suaranya kepada calon yang membagikan “sembako politik”.

Lalu apa pelajaran yang bisa ditarik dari semua uraian tersebut? Untuk mengalahkan seorang ‘juara bertahan’, para pesaing incumbent memang harus ekstra keras berjuang untuk merebut hati pemilih.
Tim sukses para pesaing incumbent juga dituntut untuk jitu dalam merumuskan strategi pemenangan pilkada. Di antara pilihan strategi pemenangan Pilkada itu adalah mempublikasikan kelemahan incumbent selama menjabat kepala daerah.

Pada umumnya, tim sukses lawan pasti mencari cela berupa daftar kegagalan incumbent dalam memimpin daerahnya. Biasanya daftar kegagalan ini merupakan satu paket dengan tudingan dugaan penyelewengan yang dilakukan incumbent.

Pelajaran lain yang dapat ditarik adalah, sudah waktunya bagi partai politik dalam proses pencalonan kepala daerah harus transparan, akuntabel, dan memperhatikan aspirasi dan keinginan rakyat. Calon kepala daerah yang diusung, bukan hanya mengandalkan popularitas dan kapital saja, tetapi juga berdasarkan pada kapasitas dan wholesale NBA jerseys integritas.

Sudah tidak waktunya lagi seorang kepala daerah hanya memamerkan kekuatan finansial, karena masyarakat lebih memilih program dibandingkan uang.

Akhir kata, untuk semua calon, tidak usah takut dengan incumbent, karena incumbent bukanlah dewa yang tak bisa ditumbangkan. Dalam sebuah kompetisi, semua hal bisa terjadi. Mengalahkan seorang Nur Mahmudi pun bukanlah hil yang mustahal…

*Dimuat di Harian Monitor Depok Februari

Sumber : https://codoix.wordpress.com/2010/07/07/mengalahkan-incumbent/

admin -

3 Comments

  1. […] de jubilados, de bien público, clubes, comercios, representantes del municipio, docentes, Incumbent padres y alumnos u ONG’s, que en conjunto y bajo un sistema jerárquico, generan un espacio de […]

  2. […] grade instead of saying “festival” I would say “vegetable” and for “backpack” I would Incumbent say “pack-pack.”  Because of this I was always afraid to say words in class for fear of […]


  3. Kourtney
    Mar 07, 2017

    Your’s is the inlieltgent approach to this issue.

Leave a Reply

%d bloggers like this: