MLM Peluang disaat Masa Sulit
Kami ber-KOMITMEN..memberikan LAYANAN yang TERBAIK untuk ke-SUKSES-an USAHA.. kita bersama.. !

MLM Peluang disaat Masa Sulit

DS-MLM ( Direct Selling & Multi Level Marketing) merupakan system pemasaran yang berasal dari Amerika dan berkembang pesat di Indonesia sejak 10 tahun terakhir. Selain di Indonesia bisnis MLM juga berkembang di negara Asia lainnya.
Di Jepang salah satu perusahaan MLM yaitu Amway Japan Ltd saat ini merupakan perusahaan asing nomor dua terbesar dinegeri itu.  Di negara itu terdapat 1.100.000 distributor Amway artinya 1 diantara sekitar 120 orang Jepang adalah distributor Amway yang independen.
Negara ketiga terbesar di dunia dalam bisnis MLM adalah Korea Selatan . Di negara Asia Timur/Tenggara lainnya yang juga mengalami perkembangan pesat seperti Thailand, Malaysia, Taiwan, Hongkong dll.

Kesuksesan MLM dibeberapa negara Asia tersebut karena sesuai dengan budaya masyarakat yang komunal dan memiliki social cohesiveness ( nilai-nilai kekeluargaan ) yang cukup tinggi. Dimanapun bisnis ini berjalan konsep keeratan sosial selalu diterapkan.
Sosiolog dunia Rich De Vos dalam bukunya Compassionate Capitalism (Kapitalisme dengan kepedulian Sosial) mengatakan bantulah orang lain untuk dapat membantu dirinya sendiri. Membantu orang lain untuk sukses merupakan langkah awal dan kunci kesuksesan bisnis MLM.
Mulanya produk yan diperdagangkan dengan system ini hanyalah produk yang dipakai habis seperti sabun, deterjen, pembersih lantai dan sejenisnya. Tetapi dalam perkembangannya produknya berkembang menjadi alat-alat rumah tangga, kosmetika, makanan kesehatan, busana, tas dan lain sebagainya.

MLM adalah bisnis dari orang ke orang atau karena adanya networking (jaringan) dan hal itu tidak asing lagi dalam budaya Asia.
Teori perilaku konsumen yaitu market embededness yang mengatakan bahwa manusia akan memperoleh value bila dia membeli dari orang yang sudah dikenalnya. Orang bukan hanya memiliki rasa percaya dari orang yang sudah dikenalnya tetapi juga ingin menanamkan budi atau mungkin membalas budi. Maka dari itu wajar bila perdagangan dalam komunitas lebih besar jumlahnya ketimbang perdagangan antar komunitas.


Apakah direct selling MLM memang lebih cocok untuk masyarakat Asia, tentu memerlukan penelitian lebih lanjut. Mengingat di negara Amerika, beberapa Eropa, New Zealan dan Australia bisnis ini juga berkembang pesat.
Dari data WFDSA(Word Federation of Direct Selling Associations)total penjualan MLM di seluruh dunia meningkat hampir 100% .Tahun 1988 angkanya baru US$ 33 milyar sementara tahun 1992 menjadi hampir US$ 63 milyar.Pelaku yang terlibat juga membengkak dari 8,5 juta menjadi 13 juta orang.
Pada prinsipnya MLM adalah penjualan langsung dari produsen pada konsumen. Produsen dengan cerdik memotong jalur distribusi yang biasanya berupa distributor, agen, toko dll. Dengan demikian biaya distribusi menjadi rendah disamping itu biaya lain yang juga diefisienkan adalah biaya promosi.
Melalui system MLM produsen tidak perlu mempromosikan produknya melalui media massa yang biayanya selangit. Karena “bintang iklannya adalah para konsumen yang kemudian direkrut menjadi agen.

Media promosi pun bukan televisi, Koran, majalah dan sebagainya tetapi kelompok-kelompok arisan, pertemuan-pertemuan keluarga, bahkan orang per orang ditempat-tempat menyenangkan seperti restoran, kafe dan sejenisnya. Semuanya produsen tidak perlu mengeluarkan biaya.
Karena itu mereka yang berhasil mencapai tingkat tertinggi di perusahaan MLM tidaklah banyak. Menurut sebuah sumber dari sebuah perusahaan MLM dari 300.000 anggota yang mencapai tingkat tertinggi hanya 50 orang atau 0,017%, di perusahaan MLM lainnya dari 50.000 anggota aktif hanya 18 orang yang sukses atau 0,036%.
Walaupun relatif kecil angka kesuksesannya bisnis ini dapat berkembang pesat di Indonesia karena para pekerja banyak yang memiliki waktu luang, penghasilan masih minim dan kesempatan kerja yang langka.

Dengan tingginya minat masyarakat mengikuti bisnis MLM ini maka bermunculanlah banyak MLM gadungan yang sudah banyak makan korban seperti YKAM di Jakarta, Kospin di Sulawesi dan beberapa di Medan, Pekanbaru. Bagaimanapun ini membuat nama MLM menjadi rusak, dihujat, dibenci dan dijauhi.
Bagaimana membedakan antara yang gadungan dan yang benar? Memang harus diteliti dan waspada karena prinsip kedua MLM itu sama, sama-sama menggunakan prinsip dwon line dan pyramid.
Yang pertama dicermati apakah MLM ini menawarkan suatu “rejeki nomplok” setelah anda menyetor sejumlah uang tanpa menerima suatu produk atau kalaupun ada produk yang diberikan kwalitas dan kwantitasnya tidak setara dengan dana yang diminta untuk disetor.
Misalnya anda diminta ikut menjadi anggota dengan menyetor uang Rp 500.000,-untuk seperangkat kosmetika dari suatu merek yang tidak ada dipasaran. Coba ditaksir berapa harga paket kosmetika yang anda terima.

Mungkin saja perkiraan anda semua produk itu bernilai Rp100.000,- Dititik ini seharusnya anda curiga karena diawalnya saja anda sudah rugi Rp 400.000,-
Biasanya orang terlena karena dijanjikan akan menerima separuh uang setoran itu jika berhasil mencari dua orang lain untuk ikut menjadi down line pertama, lalu kalau kedua anggota itu berhasil pula mencari masing-masing dua orang down line kedua, anda akan mendapat uang separuhnya lagi.
Berarti setoran anda sudah kembali modal. Janji berikutnya kalau empat orang down line kedua itu berhasil mendapatkan masing-masing dua orang lagi Anda akan mendapat bonus.
Coba simak kecurangan praktek ini pada awalnya anda sudah dirugikan Rp 400.000,-? Untuk mengganti kerugian yang Anda derita, Anda mencari lebih banyak orang untuk “diajak rugi”.
Kalau berhasil, kerugian Anda akan tertutup sedang sipenyelenggara mendapat untung sebagiannya. Pada pihak yang Anda ajak bergabung kalau ingin modalnya kembali, juga harus mencari “korban baru” minimal enam orang. Begitulah seterusnya hingga praktek “rugi merugikan” ini menjadi rantai yang panjang.

MLM murni berjalan cukup fair.Harga produk yang ditawarkan atau uang yang diminta disetorkan relatif seimbang dan masuk akal.
Penyelenggara atau agennya (A) mula-mula akan menawarkan pada calon anggotanya (B) untuk membeli suatu produk entah itu diterjen, sampo, busana atau tas. Bila B membeli statusnya masih konsumen biasa.
Bila B berminat untuk ikut menjual produk-produk itu kepada kenalan, keluarga, atau siapa saja dia bisa direkrut menjadi down line dari jaringan A. Untuk itu B Harus membayar uang keanggotaan atau membeli alat peraga .
Sejak itulah B menjadi jaringan A kemudian bisa menjual dengan mendapat diskon atau mencarikan anggota lain sebagai jaringan dibawahnya.
Setiap penjualan yang dilakukan B, A pun akan mendapat komisi walaupun jumlahnya tidak sebesar yang diterima B. Begitulah seterusnya. Semakin aktif para pembeli yang merangkap menjadi agen di dalam suatui jaringan akan semakin besar pula komisi atau bonus yang akan diterima oleh A. Inilah system MLM yang benar dan diakui.
Untuk dapat membedakan MLM yang benar dapat juga dilakukan dengan mencari tahu apakah MLM tersebut tergabung dalam keanggotaan APLI ( Asosiasi Penjual Langsung Indonesia), suatu organisasi yang menghimpun para penyelenggara MLM di Indonesia dan diakui pemerintah atau tidak. Memang tidak semua MLM yang baik menjadi anggota APLI.

Pada saat seseorang bergabung dengan perusahaan MLM, pada dasarnya ia telah memilih bisnis MLM sebagai profesi. Sama halnya ketika seseorang memilih suatu pekerjaan. Bedanya ketika memasuki bisnis MLM ia memilih sebagai pekerjaan kedua, pekerjaan tambahan atau pekerjaan alternatif sebelum memutuskan menjadikan bisnis MLM sebagai karier jangka panjang atau sebagai pekerjaan tetap.
Kata kunci pertama yang ditekankan pertama kali merekrut agen baru adalah “kerja santai” dan “duit banyak” karena dapat dikerjakan sambil lalu, disela-sela waktu senggang,cukup merekrut orang-orang dekat dan famili, setelah punya down line banyak duit terus mengalir masuk kocek kita.
Untuk lebih meyakinkan calon kadernya ditampilkan orang-orang yang sukses sebelumnya, menceritakan kisah sukses mereka serta hasil-hasil (biasanya dalam bentuk materi) yang sudah mereka dapat.
Sehubungan propaganda pelaku MLM tersebut, benarkah bisnis ini bisa dilakukan dengan santai sekedar mengisi waktu luang?
Kita coba melihat tingkat keberhasilan tertinggi di perusahaan MLM. Menurut sebuah sumber dari sebuah perusahaan MLM dari 300.000 anggota yang mencapai tingkat tertinggi hanya 50 orang atau 0,017%, di perusahaan MLM lainnya dari 50.000 anggota aktif hanya 18 orang yang sukses atau 0,036%.

Walaupun relatif kecil angka kesuksesannya bisnis ini dapat berkembang pesat di Indonesia karena para pekerja banyak yang memiliki waktu luang, penghasilan masih minim, kesempatan kerja yang langka dan masih banyak orang yang bermental ingin punya duit banyak dengan kerja ringan.
Karena itu bila melakukan bisnis MLM dengan santai atau sekedar iseng maka penghasilan yang didapatnya juga sekedarnya. Mereka yang berhasil baik dan mendapat bonus seperti yang dicontohkan maka ia harus bekerja keras dan memang serius menekuni bisnis ini..
Pada suatu titik dimana dia sudah memiliki dwon line banyak kegiatan MLM ini tidak mungkin dilakukan paruh waktu. Dia harus memilih pekerjaan kantor atau full time diMLM.

Sumber Dikutip dari: www.henkynjotowidjaja.com

admin -

Leave a Reply

%d bloggers like this: