Taktik MLM Menjaring Devisa
Kami ber-KOMITMEN..memberikan LAYANAN yang TERBAIK untuk ke-SUKSES-an USAHA.. kita bersama.. !

Taktik MLM Menjaring Devisa

jamu_nyonya_meneerJAKARTA – Alih-alih pasar di dalam negeri tengah terpuruk, banyak kalangan industri jamu pun mulai melirik pasaran ekspor. Salah satunya Nyonya Meneer yang berhasil merambah ke banyak negara dengan strategi multi level marketing (MLM). Selain lebih efisien, kiat pemasaran ini juga tergolong ampuh menyiasati kendala.

Industri jamu di negeri ini diramalkan masih akan tumbuh cukup mengesankan. Setidaknya, itu menurut prediksi Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) yang dilansir pada Mei lalu. Pertumbuhan selama 2008, kata mereka, akan mencapai 20 persen, konon rekor tertinggi sepanjang sejarah bisnis jamu di negeri ini. Jika hal itu menjadi kenyataan, tak kurang dari Rp7,2 triliun nilai fulus yang akan berputar di sektor ini.

Tapi lacur, kabar yang begitu menggembirakan itu hanya bergaung sekejap. Tak kurang dari Charles Saerang, Ketua GP Jamu, pada pekan lalu harus meralatnya. Berdasarkan perkiraan yang lebih realistis, katanya, pertumbuhannya paling tinggi hanya 10 persen. Dasarnya, setelah melihat perkembangan dalam beberapa pekan terakhir, ternyata trennya kurang berpihak buat kalangan industri.

Ada sejumlah faktor yang dituding sebagai biang keroknya. Di antaranya, karena peringatan dari PLN yang akan mengurangi jatah pasokan listrik untuk industri di Pulau Jawa, mereka harus berancang-ancang mengurangi kegiatan produksinya. Turunnya skala produksi, juga berarti ancaman terhadap merosotnya pendapatan.

Jika melihat kecenderungan yang tengah berkembang, “pemaksaan” mengurangi skala produksi ada benarnya. Maklum, toh daya beli kebanyakan masyarakat–notabene pasar paling potensial buat produk jamu–tengah terpuruk pasca-naiknya harga berbagai barang kebutuhan yang dipicu oleh meroketnya harga BBM.

Tapi, persoalan paling pelik yang harus dihadapi kalangan industri, berkait dengan terbongkarnya produk ilegal yang banyak beredar di pasar. Gara-gara kasus ini, ibarat setetes nila, rusak susu sebelanga, niscaya akan merusak citra industri jamu secara nasional. Pasar bahkan cenderung menahan diri lantaran banyak produk jamu di pasaran yang terindikasi mengandung bahan berbahaya.

Sampai di situ, semakin jelas, mengapa laju pertumbuhan di sektor ini cenderung melemah. Giliran ribuan industri anggota GP Jamu pun dibuatnya pusing tujuh keliling. Adakah solusinya?

Seperti kata pepatah klasik, selama masih banyak jalan ke Roma, tentu ada jalan keluarnya. Lesu di dalam negeri, bukan berarti segalanya jadi runyam. Lihat saja yang dilakukan sejumlah industri yang telah mengantisipasi terjadinya gelagat tak menguntungkan itu. Kini, mereka mulai melirik pasar di luar negeri.

Salah satunya PT Jamu Nyonya Meneer, yang mulai giat berekspansi ke sejumlah negara. Yang sudah berjalan (sejak dua tahun lalu) di antaranya ke Taiwan. Di negeri Chiang Kai-shek itu, ternyata produk jamu asal Jawa Tengah ini banyak diminati. Skala ekspornya terbilang lumayan. Selama 2007 saja “devisa” yang berhasil diraupnya Rp10 miliar.

Melihat antusiasme pasar di sana yang cukup tinggi, “Kami berani menargetkan ekspor ke Taiwan selama 2008 mencapai Rp20 miliar,” kata Charles Saerang, Presiden Direktur PT Nyonya Meneer. Selain di Taiwan, produk jamu Nyonya Meneer juga sudah lebih dulu kesohor di pasar Malaysia dan Singapura.

Sepintas, langkah ekspansi industri yang telah berumur 89 tahun itu, begitu ringan. Tapi sebenarnya, tak semudah seperti yang dibayangkan. Berniaga di negeri orang ternyata lumayan pelik. Setidaknya, dibutuhkan persiapan dengan proses yang amat panjang. Untuk mengurus izin dagang di Taiwan, misalnya, menghabiskan tempo sekitar tiga tahun. Biayanya pun cukup besar, setiap item-nya sekitar Rp1,5 miliar.
(Eko Edhi Caroko/Trust/rhs)

Sumber dikutip dari : http://economy.okezone.com/read/2008/07/02/23/123920/taktik-mlm-menjaring-devisa

admin -

Leave a Reply

%d bloggers like this: